A Pieces of Memoar

By TIANDARINIE - Agustus 18, 2011

Tik—
Tik—
Itu bukan suara mesin ketik, apalagi suara sepasang unggas bernama itik. Itu hujan, ah rintik mesra mungkin lebih tepat. Yang jatuh membumi tanpa permisi, bagai serdadu tanpa komando, menyerang kita begitu saja. Aku, kamu, sekarang. Ketika matahari sore seharusnya berbagi kehangatan dan langit biru memudar menuju senja. Seharusnya cerah ya? Ini hari Rabu kan? Sedikit dari waktu luang yang biasa kita bunuh detiknya bersama-sama. Satu dari tujuh hari dalam seminggu, kenapa hujan harus menerobos di antara Selasa dan Kamis?

“Ini tidak adil” batinku waktu itu—sambil bibir membentuk kerucut asimetris. Sementara kamu, yang duduk membelakangiku sehingga yang terlihat hanya tulisan Straight Edge di bagian belakang jumpermu, sepertinya tersenyum simpul dan tidak ambil pusing.

“Hanya gerimis kan? Rencana kita tidak akan batal. Kecuali Tsunami atau badai Lanina yang mengobrak-abrik kota Malang, lain lagi ceritanya”

Kata-katamu selalu menenangkan. Bagai pelukan seorang ibu saat aku terjaga dini hari. Menyenangkan. Diam-diam, aku mengulum senyum simpul. Tak banyak komentar lagi. Motor tetap melaju, menuju tempat yang kita tuju, disertai rintik sore itu, pukul lima lebih tujuh.

Destinasi pertama, done. Motor menepi tak jauh dari salah satu pusat perbelanjaan tersohor di Kota dingin ini. Bukan, kita bukanlah hedonis yang atas nama gengsi, mengisi perut di restoran berpajak gila-gilaan. Bukan pulai manekin berjalan yang show off penampilan di Mall itu. Mungkin dulu, saat berseragam abu-abu dan masih menggandrungi NSYNC serta WESTLIFE. Tapi sekarang? Di usia kepala dua dan penat akan aneka warna rona kehidupan, kita butuh hiburan lain :

Cilok SMA 8

Ada yang asing dengan istilah ini? C-i-l-o-k. Cilok, tanpa sisipan ‘n’. Bisa ambigu nanti, bila ada huruf ‘n’ di tengahnya. Oke, mulai melantur. Kembali pada cilok, makanan bulat kecil yang merupakan transformasi dari bakso yang menjadi cita-cita luhur kita sore ini. Biasanya dijajakan oleh mas-mas bermodal gerobak kecil yang bersatu padu di atas sepeda motor. Mungkin bagimu ini biasa saja. Bagiku ibarat nasi goreng pake telur—spesial.

Dan ketika sebungkus cilok ada dalam genggaman, aku tersenyum lebih lebar dari biasa. Yah, aku hanya minta ini : kelakar dan senyummu, sambil berteduh di bawah payung dan lengkap dengan gerimis yang menahanmu tetap di sisi, hingga terang yang entah berapa lama lagi
semoga, tak berakhir

based on true story with a bit adjustment © 2010
---

It is a simply birthday present to someone in somewhere
Heavy 24th blast day Maum
Allah blessed you !


  • Share:

You Might Also Like

0 komentar