Review Music : ATLESTA - Sixty Nine Allright (Official Music Video)

By TIANDARINIE - November 10, 2012




Bila dunia sudah terbiasa dengan istilah diduakan atau menduakan, maka apa jadinya ketika entitas adam diserbu oleh enam gadis belia yang berpeluang membangkitkan kinerja testoteron? Cupid may cry right now, blame it on video musik Sixty Nine All Right hasil imajinasi liar Fifan Christa dan kroni-kroninya yang memproklamirkan diri sebagai Atlesta. Video diawali dengan fade in typografi 'Atlesta' berlatarbelakang seorang pria yang sedang tidur, disusul fade in judul lagu, credit tittle dan caution adult content. Mengundang tanda tanya besar pop up di kepala saya : apa gerangan yang tersaji dalam video berdurasi 04:56 ini? Sexual intercouse seperti dalam ancient hinduism Kama Sutra atau sex activity sefrontal empat siswa Michigan   Senior High School dalam film American Pie?

Video musik ini dikemas dalam bentuk film pendek yang awalnya sedikit menjemukan karena hanya berupa konversasi ala muda-mudi tersandung cinta yang seolah menyia-nyiakan impression 10 detik pertama. Lantas kemudian pentas yang sebenarnya dimulai ketika Fifan sang Don Juan dalam adegan itu menyeruak tanpa permisi, berhasil merebut setiap atensi. Lalu ada keintiman yang ekstrim, melebur dalam scene yang diolah menggunakan software Vegas Pro 10 dengan efek motion blur dan colour burn. Urusan warna, saya duga ada utak-atik pada parameter levels, vibrance dan finesse colour ala After Effect yang teradaptasi dari tone lomography. Oke kita skip tentang tekhnis, kembali pada inti cerita. Canda tawa dan leha-leha diprovokasi oleh insert tubuh para belia menggemaskan yang setara dengan sirup manis di tengah terik siang bulan puasa, menggoda! Di detik 04:07 mari mengakui bahwa menjadi Fifan adalah dambaan setiap kaum adam. Tidur bertelanjang dada dikelilingi daramuda berparas jelita? Duh siapa yang tak sudi.

 
Saya rasa, sebagai pendatang baru di ranah musik lokal kota Malang, Atlesta cukup berani mendobrak titik jenuh akan musik hingar-bingar bersdistorsi maksimum yang kian menjamur. Selaku director, Harsya Mahendra dan Fifan Christa nampaknya piawai mengelola denyut jantung penonton dengan menyisipkan adegan-adegan yang cukup mengundang wow dari kaum berkromosom XY. Kental dengan aksen not giving a damn just have fun ala teenager dan tone warm, video music ini cukup bersahabat dengan indra penglihatan. Effect yang disajikan pun tidak njelimet dan membuat mumet, hanya sebatas permainan transisi dan speed yang seirama ketukan musik. Selebihnya, seperti video musik electro-synthpop pendahulunya yang lebih tersohor (sebut saja Owl City) maka Atlesta ibarat oase di tengah gersangnya padang safana, menyegarkan. Tak ada yang sempurna di dunia ini, seperti halnya ketidak puasan saya pada video music Atlesta ini. Secara konsep sudah oke, tapi dari segi analisis teks yang dalam hal ini tentu saja representasi lirik lagu, dikemanakan adegan 69nya? Mana? Haha! Saya rasa ada missing dalam visualisasi lirik. Mungkin karena tergerus budaya timur yang konvesional, maka Atlesta merepresentasikannya sebatas skala 'aman'.

--you said just be polite to make me flying high, sixty nine? All right!

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar