Dalam Kurun Delapan Tahun

By TIANDARINIE - Februari 05, 2018

credit to freepik.com


“Kamu agak kecilan,” kataku pada Kay suatu sore seusai hujan. Ia adalah gadis kecil yang rupanya telah menjelma menjadi perempuan mungil dalam kurun delapan tahun. Meski tingginya tak seberapa, namun tingkat keriangannya di atas rata-rata. Kukenal ia sebagai teman sekolah di usia pertengahan belas. Lebih dari teman, bahkan. Senyumnya pernah membuat jantungku berdetak kencang melebihi normal. Bahkan sampai sekarang.

***
Dulu rambutnya dikuncir kuda lengkap dengan poni. Biasanya kuperhatikan dia dari samping diam-diam. Ketika sedang serius mencatat materi pelajaran, poninya jatuh menjuntai hingga mencapai buku tulis. Kemudian ia sibuk merapikan poni yang dengan bebalnya  jatuh kembali. Kejadian itu berlangsung berulang-berulang, hingga ia sebal dan menjepit poninya ke atas dengan asal-asalan. Wajah cemberutnya saat itu adalah salah satu pemandangan favoritku di kelas. Menggemaskan.

Waktu itu kami adalah sepasang kanak-kanak yang belum bisa merumuskan formula cinta seperti orang dewasa. Berjumpa saja, jantung rasanya mau copot. Apalagi sampai bersentuhan tangan, maka tidak terhitunglah ritme jantung ini. Bahagia kami adalah pulang pergi sekolah bersama menumpang angkot. Menabung uang jajan demi menelfon di wartel selama berjam-jam adalah suatu kemewahan tersendiri. Sesekali, lewat telfon rumah kusapa dia dengan alasan ‘PR yang kemarin udah kamu kerjain belum?’ demi memanipulasi fakta dari orang serumah. Padahal aku hanya ingin mendengar suaranya dan tenggelam dalam riuh tawanya selama mungkin. Perasaanku sesederhana itu.

“Sebentar lagi ujian kelulusan. Kamu belum berani bilang suka sama dia?” seorang teman pernah nyeletuk ketika menangkap basah mataku sedang terpaku pada kursi pojok tempat Kay duduk. Kualihkan pandangan secepat mungkin, berusaha menepis dugaan itu. Malu. Segera kusibukkan diri dengan membaca buku terbitan Erlangga secara asal-asalan. Temanku hanya terkekeh sebelum melanjutkan candaannya, “Nanti keburu direbut orang lain, nyesel loh...”

Dan memang benar, aku menyesal. Keberanianku ciut hingga ukuran paling mikroskopik. Ketika teman-teman sekelas sibuk mempersiapkan pasangan di malam perpisahan, aku malah mengutuk diri sendiri.  Kuabaikan ajakan ke-prom-night-bareng-bareng-yuk yang ditawarkan Kay malu-malu suatu siang sepulang sekolah. Aku malah bercerita dengan santai tentang ide pencalonan diri sebagai master of ceremony di acara prom night. Padahal ingin sekali aku berteriak lantang menjawab ‘IYA TENTU SAJA AKU MAU MENJADI PASANGAN PROM NIGHTMU’ tapi lidah ini mendadak hilang kordinasi dan perut ini tiba-tiba berkontraksi. Kutebak, rasa kecewa Kay berlipat ganda saat itu.

Bodoh kau, Ditria.

Yang aku tidak tahu, itu ajakan terakhir Kay sebelum pergi meninggalkan kota ini. Ketika aku sibuk merekayasa perasaan demi menghindari olok-olokan teman sekelas, Kay justru sibuk merapikan barang-barang yang akan dibawanya pergi. Ia menghindari telfonku bahkan tidak mau bertemu ketika aku bertamu ke rumahnya. Yang aku tidak tahu, Kay menangis. Berharap aku muncul sebentar di bandara sebelum ia benar-benar pergi. Yang Kay tidak tahu, aku mengurung diri dan hilang nafsu makan selama satu minggu. Menjadi zombie di rumah sendiri.

***
Tiga tahun berlalu tidak terasa. Lepas sudah label siswa dan berganti mahasiswa. Kami tidak bertukar kabar meski sebenarnya ingin. Hampir setiap sore kulewati rumah Kay, berharap tiba-tiba sosok mungilnya berkeliaran di halaman, tanpa alas kaki seperti biasa. Tetapi nihil. Kami melanjutkan hidup masing-masing sebagai orang asing yang semoga saja saling mendoakan dan memimpikan meski hanya sesekali.
***
Lima tahun berlalu, Kay akhirnya ingat rumah. Kudengar kabar dari beberapa teman bahwa Kay pulang. Kesempatan itu tidak kusia-siakan dan segera kuhampiri Kay ke rumahnya. Masih ada sisa-sisa letih di wajahnya, tapi kuculik ia semena-mena. “Pinjam sebentar ya Tante, mau ngajak Kay jalan-jalan biar tidak lupa arah pulang,” pamitku ke orang tuanya. Malam itu, bermodal mobil pinjaman dari Papa dan surat izin mengemudi yang baru terbit kemarin, kuajak Kay berkeliling kota. Seharusnya perjalanan ini panjang dan indah. Tapi kemudian sebuah dering telfon memecah imajinasiku menjadi mozaik serampangan, hancur.

“Iya sayang, udah tiba kok. Ini lagi jalan sama teman SMP...” lirih suara Kay menjawab pertanyaan entah siapa di seberang telfon itu. Kemudian ia tertawa. Tawa yang kukenal betul intonasi dan ritmenya.

Malam itu, batal kuungkapkan perasaan yang terpendam. Cintaku gugur sebelum bersemi, musim dingin datang terlalu cepat tahun ini. Iklim spontan menukik dalam suhu minus paling ekstrim: membekukan aku.
***
Delapan tahun berlalu. Kutemui Kay di kotanya secara tiba-tiba. Hobiku seperti biasa adalah menculiknya pergi semauku tanpa intro terlebih dahulu. Sore itu, hujan turun dengan lebatnya. Rinduku sedang hebat-hebatnya. Kay tersenyum, masih seceria yang sudah-sudah meski tidak berlangsung lama. Sebuah cincin emas putih yang melingkar di jari manisku, membuyarkan semua gurat bahagianya.

"Kay, tiga bulan lagi aku menikah. Datang yah?"
Sekali lagi. Bodoh kau, Ditria.

***

Meski kutundukkan pandangan, debar hatiku tersampaikan
Meski kubendung rasa haru, air mataku tak terkalkulasi
Seharusnya dari dulu kamu bilang, ini bukan cinta
Kita cuma sahabat, iya kan?

***

Bakers King, 12102012, 14:41

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar