Le Grand Voyage : Lasting Love by A Journey

By TIANDARINIE - Mei 24, 2018



[SPOILER ALERT]

Dua orang. Satu darah. Perjalanan. 5000 mil. Lasting love.

Jangan terkecoh, Le Grand Voyage bukan film tentang romansa klasik dua insan dimabuk asmara. Ismaël Ferroukhi, sutradara sekaligus penulis film justru menceritakan hubungan antara le père (Mohamed Majd) seorang ayah yang keras hati  dan putranya Réda (Nicolas Cazalé) yang keras kepala.

Film produksi tahun 2004 ini diawali dengan konflik, saat Le père meminta Réda mengantarnya dari Perancis Selatan menuju Mekkah melalui jalur darat. Réda menolak karena sebentar lagi menempuh ujian Baccalauréat (semacam UN) dan sedang cinta-cintanya pada Lisa, remaja Prancis non muslim.  Lagipula Réda menganggap ide Le père ini sangat aneh. Kenapa tidak naik pesawat saja seperti jamaah haji lainnya?

Meskipun tumbuh besar dengan kebudayaan Eropa, namun sebagai keturunan Maroko dimana posisi ayah adalah posisi tertinggi, maka Réda tidak dapat menolak ketetapan Le père. Berangkatlah mereka berdua dari Prancis menuju Mekkah menggunakan jalur darat, menyusuri Italia, Slovenia, Kroasia, Yugoslavia, Bulgaria, Turki, Syria, Jordania lalu Arab Saudi. Sepanjang perjalanan, konflik semakin beragam. Mulai dari bersiteru tentang arah peta di mana Réda ingin melintasi kota-kota besar sedangkan Le père memilih jalur alternatif agar lebih cepat sampai di tujuan. Lalu hadirnya seorang perempuan tua aneh (Ghina Ognianova) berjubah hitam yang menumpang mobil secara tiba-tiba di perbatasan Bosnia menuju Beograd. Kemudian mereka terkubur salju dalam mobil di Bulgaria yang berakibat Le père sakit sehingga harus opname.

Insiden tidak hanya sampai di situ, selanjutnya paspor Réda bermasalah.  Kepolisian setempat yang hanya menguasai bahasa Turki semakin memperburuk situasi. Disinilah muncul Mustapha (Jacky Nercessian) sebagai penerjemah sehingga dokumen Réda pun beres dan mereka melanjutkan perjalanan.  Namun ternyata Mustapha berniat buruk, mengajak Réda mabuk dan mencuri uang Le père yang disimpan di kaus kaki.
If you pour a bottle of wine in a glass of pure water, the pure water will change color. However, if you pour a bottle of wine on the ocean, it does not necessarily change the color and taste of the ocean
(Mustapha when told Reda to drink beer)
Ketika tiba di Damascus dalam keadaan lapar, haus, air karburator dan bensin habis, Le père justru menyedekahkan sisa uangnya kepada janda tua di pinggir jalan. Réda berontak, dan tak habis pikir kenapa di saat kekurangan, ayahnya justru menghambur-hamburkan uang? Le père naik pitam dan menampar anaknya. Réda mengambil koper dan paspornya lalu minggat ke atas bukit. Tidak mau lagi menemani perjalanan sang ayah. Pada akhirnya sang ayah luluh dan menyusul Réda, berniat untuk menjual mobil dan pulang saja ke Prancis naik pesawat.

le-grand-voyage-screenshot-02-rizaladam
Réda: Why didn’t you fly to Mecca? It’s a lot simpler.
Le père: When the waters of the ocean rise to the heavens, they lose their bitterness to become pure again…
Réda: What?
Le père: The ocean waters evaporate as they rise to the clouds. And as they evaporate they become fresh. That’s why it’s better to go on your pilgrimage on foot than on horseback, better on horseback than by car, better by car than by boat, better by boat than by plane.
(one dialogue when they are in the middle of snow)
Film berdurasi 108 menit ini tidak hanya menyajikan panorama indah dan aksen Eropa - Arab yang kental tetapi juga membuat kita kaya akan nilai spiritual. Sosok Mohamed Majd sebagai Le père digambarkan sebagai muslim yang taat dan tidak pernah lalai beribadah, namun ia tidak mendikte Réda untuk ikut beribadah dan membiarkan sang anak menemukan jalannya sendiri suatu saat. Le père tidak ingin memaksa, hanya membimbing jalan. Tersirat pesan bahwa apalah arti ibadah bila didasari oleh keterpaksaan?

Ada pula satu adegan menarik ketika Réda ingin makan daging setelah dua hari berturut-turut hanya makan roti isi telur karena uang mereka menipis. Maka Le père menukar kamera Réda dengan seekor domba. Ketika akan disembelih, domba tersebut kabur dan lolos meskipun Réda susah payah mengejarnya. Sepertinya Ismaël Ferroukhi menitikberatkan nilai-nilai proses daripada hasil akhir. Diperlukan jatuh-bangun-sungsang-lebam lebih dari sekali untuk bisa berdiri tegak.

Lalu seperti apa akhir perjalanan dua manusia dengan kesenjangan budaya dan isi kepala itu? Mereka tiba di Mekkah,  Réda menunggu di Mina sementara Le père melanjutkan ritual ibadah haji bersama rombongan lain. Namun hingga pagi, Le père tak juga kembali. Réda pun mencari hingga ke  Masjid Al Haram, melewati lautan manusia berpakaian ihram sementara ia sendirian berkaos kuning terang, cemas seperti anak kecil yang tersesat. Pada titik ini, Feeroukhi berhasil mengiris-iris hati penonton. The ocean waters evaporate as they rise to the clouds and as they evaporate, they become fresh.

Sang ayah menemui kemurniannya kembali di Baitullah dan menghembuskan nafas terakhir di sana. Saya impress dengan cara Réda menghadapi kepergian le père. Ada kehampaan yang enggan diungkapkan lewat tangis atas nama boys don't cry. Namun sebagai anak ia juga tak cukup kuat untuk menahan rasa haru. Réda terisak dalam diam, sejadi-jadinya, di sisi jasad sang ayah yang terbujur kaku. Totally hurt. Réda baru saja mengenal dan mengasihi ayahnya setelah menempuh 5000 mil, lantas harus kehilangan tanpa sempat mengucapkan pisah. Le Grand Voyage sukses mengacak-acak emosi dan menggelitik saraf spiritual dengan dialog minimalis. Parfait!

I want you so bad I'll go back on the things I believe

I'm scared you'll forget about me...

(John Mayer)
--
Pic credit to Freepik
Currently listening : John Mayer - Edge of Desire

  • Share:

You Might Also Like

20 komentar

  1. Film eropa memang tastenya beda. Lebih dalem rasanya. Kalo buat beberapa orang mungkin bakal boring. Tapi lebih menyentuh ketimbang film indonesia. C'est un formidable cinema

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, sinematografinya bagus pun. Meski kadang alurnya susah dimengerti tapi konfliknya selalu menarik :D anyway salam kenal yaa

      Hapus
  2. Bapak dan anak laki laki suka ada konflik hal ini yang menarik untuk di angkat karena hubungan sedarah harus menyatu walau sama sama keras kepala

    BalasHapus
  3. Saya belum pernah nonton film ini, tapi kalau dibaca dari ulasannya jadi lenasaran pengen nonton. Maklum sih sama sikap Reda yg gak setuju ayahnya kasih uang ke janda. Padahal niatnya mau sedekah, tapi ya harusnya si ayah jgn sampai menampar gitu. Duh haru baca nya, gimana kl nontonnya, bisa2 habis tissu satu pcs

    BalasHapus
  4. Hai mbak Tian...film Eropa memang berbeda ya dengan film2 hollywood. Dar sisi ceritanya penuh konflik, penasaran jadi pengen nonton filmnya. Betewe, ini pake bahasa Turki atau Perancis ya mbak filmnya?

    BalasHapus
  5. Filmnya bagus mengandung pesan yang dalam apalagi dengan latar belakang Eropa-Asianya. Selalu berharap Indonesia punya film keren kaya gini.

    BalasHapus
  6. Le Grand Voyage ini menggunakan bahasa apa mbak? Andai filmnya ada yang nyesel di tivi, biar bisa menebar manfaat

    BalasHapus
  7. Baca reviewnya aja udah terharu mbam film jadul tapi meaningful yah :''' mau nonton deh, di youtube ada ga yah?

    BalasHapus
  8. film yg bagus
    baca reviewnya aja udah bisa bayangin bagusnya film ini
    pengin nonton
    semoga nti bisa ada di youtube atau diunduh diaplikasi film gratis

    BalasHapus
  9. Jadi penasaran pengen nonton filmnya. Belakangan inj saya banyak nonton drakor dan udah lama banget nggak nonton film barat. Sepertinya film ini bisa jdi pilihan nih

    BalasHapus
  10. Ya Allaaah endingnya mengharukan sekali. Ayahnya meninggal di Baitullah. Pasti sedih ya, Mba filmnya.. Nonton ga ya? Soalnya saya nggak suka sad ending.

    BalasHapus
  11. Baca reviewnya bikin perasaan saya campur aduk dan kepengen nonton. Penuturan kakak bagus banget. Dan jadi mengingatkan saya kalo sudah lama sekali saya tidak menomton film yang sarat makna.

    BalasHapus
  12. Sepertinya kok mengharu biru ya film nya? Penuh pesan spiritual, tenggang rasa, jg kekuatan hubungan antar manusia. Jadi pengen nonton. Tapi kapan... Sibuk mulu sm duo krucil 😅😅

    BalasHapus
  13. Aku pernah baca review film ini sebelumnya dan film ini sempat masuk list Must Watch. Tapi belum sempeeet hiks. Semoga nanti bisa nonton yaa. Sepertinya endingnya bikin terharu :''''')

    BalasHapus
  14. Ini novelnya berbahasa inggris ya mba?. Aduh aku udah lama gak baca novel inggris. Mengasyikkan sekali bisa membaca ringkasannya mba.

    BalasHapus
  15. Film Eropa selalu membawa kesan yang mendalam setelah menontonnya apalagi Film ini endingnya sedih banget karena ada perpisahan antara anak dengan ayahnya

    BalasHapus
  16. Belum pernah nonton film ini, kapan-kapan cari ah. Suka sekali nonton yang bertema keluarga, atau hubungan ayah dan anak, apalagi di sini disebutkan ada cukup banyak konflik ya. Tapi ini filmnya happy ending nggak sih, Mbak?

    BalasHapus
  17. wah ternyata ada film bagus! aku belum pernah nih nonton film ink.. jadi penasaran juga.. apa lagi tema nya tentang ayah dan anak..

    BalasHapus
  18. Belum pernah nonton film ini. Dan kayaknya, untuk aku, ini bakal ngebosenin :D. Atau harus coba nonton dulu kali ya...

    BalasHapus
  19. Aahhh endingnya bnr2 bikin terharuuu.. Aku jadi penasaran mba pgn nonton filmnya.. Film Eropa mmg berbeda ya..

    BalasHapus